RSS
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

My Father and Me

Ayahku bernama Mu..... Yang biasa kupanggil dengan Papah. Sebetulnya aku lebih akrab dengan Mamah dibanding beliau, tapii... tidak berarti aku tidak punya cerita bersama beliau..
Berikut ini contohnya:

2 Maret 2010 07.36am
Sampit town

"pa, ana yang bawa ya..." kataku sambil senyam senyum gajebo.
"kayak udh bisa aja!" wew... Gak percaya sm ank sndiri...

Selang beberapa menit... D jalan yg rada sepi kendaraan...
"km yang turun!"
"beres bos!" jawabku semangat...

Pindah posisi, aku d sayap kanan papa d sayap kiri... Halah... Ne ngapain seh...
"hayo masih ingat gak!" tantang beliau.
"ya dunkz..." jawabku dlm hati...

Injak porseneling dalem-dalem d kaki kiri... Kaki kanan siap-siap d posisi gas...
Jreng jreng...!!!
"lho? Koq gak jalan pa..." aku panik!
"lha wong km blm oper giginy. Ya mana bisa jalan..." protes beliau.
"oh iya ya..." meringis malu.

Oke... Porseneling sudah siap, gigi 1 sudah siap juga... Sekarang tinggal...
Tralala... Tancap gas...
"heh heh!"
"haduh apalagi ini?" tanyaku dalam batin...
"itu kenapa kaki kananmu d posisi rem?"
"hah?" aku cek ke bawah untuk memastikan... "oh... Rem-nya pindah d posisi tengah yah ternyata... Pantes!" kataku sedikit becanda untuk menimbun rasa malu, hehe... Gimana yah, jujur aku cuma ingat posisi porseneling saja...
"mbah mu!" jiah, beliau memangil mbok na sendiri... Hehe,
"hehehe... Ana lupa, pa... Maklum lah!" uhh... Hampir setengah tahun gak megang... Wajar lah... (membela diri sendiri!)
"gitu koq minta sim A!"
gedubrak... Brakz... Prang... Tuing...
Glek glek glek...


Hehehe. Aku memang pengen belajar mengendarai mobil, tapii.. kayaknya lebih jauh lebih sulit dibanding mengendarai BOM BOM car.

semoga manfaat ^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

My Mother and Me

Seperti puisi yang kutulis di postingan sebelumnya,
Puisi Untuk Ibunda
adalah merupakan penyampaian perasaanku pada beliau. Yah, sebetulnya itu mendadak dibuat, durasi 15 menit.. Gara-gara adikku yang ada tugas minta bikinkan puisi.
Sebenarnya, sudah dari pagi adikku minta tolong bikinkan puisi, tapi dari siang sore malam, aku bener-bener lupa. Dan baru saat hampir tengah malam jam 10 wita aku bikin... dan hasilny, ya gitu deh... kurang memuaskan, mungkin.

Ibuku bernama E... A..... Yang biasa kupanggil Mamah. Beliau hanya tamatan SMU, tapi lebih hebat mengoperasikan Microsoft Excel ketimbang aku. Tanggal lahir kita berbeda sehari loh, beliau tanggal 5 sedangkan aku 6. Aku mirip banget sama beliau, walaupun tidak dapat dipungkiri, Mamah lebih cantik. Tapi kami sama-sama suka membaca.
Oh ya, sebetulnya banyak cerita antara aku dan Mamah, cuma apa muat yah kalau diposting di sini? Saking banyaknya, hehehe. Well, mungkin bukan masalah kapasitasnya, tapi akunya ini sanggup apa enggak ya nulis beribu karakter? Oh, membayangkannya aja bikin sakit perut. Aku menyerah.

Seandainya aja perekam memori, tinggal aku duduk diam, dan alat itu akan bekerja untuk menyadap kenangan,,, Ah... ngaco, mana ada yang seperti itu.

Bismillah..
Dan ini adalah puisi untuk Mamah...


Mama... :)

Tak ada kata yang bisa mengukir indahmu..

Aku pun bukanlah pujangga yang sangup merangkai kata..

Aku hanya puterimu, yang haus kasih sayang..

Yang terkadang iri dengan adikku semata wayang,

Deng Bagus Yusuf, kau lebih diperhatikan rupanya..

(terdengar nada iri remang-remang dari kejauhan) hehe



Mama...

Rasa terimakasihku padamu ini, mungkin

tak sebanding dengan apa yang telah kauberi,

Semenjak aku masih dalam kandungan,

Dengan sabar Engkau membimbingku,

Dan sekarangpun aku masih perlu bimbinganmu..



Dari jauh sini, di kota kenangan mama & papa..

Kuutarkan rasa sayangku padamu,

Yang mungkin pernah kuungkapkan dengan lisan,

Namun belum genap dengan perbuatan..

Dengan terpaan angin sayang,

Dengan hembusan napas rindu,

Dengan segenap tangis bahagia,

Aku hanya ingin menuliskan,

“Mama, Kau cinta pertama dan Terakhirku”


Sekian.

Tapi, dalam dua tahun belakangan ini, sangat sedikit ceritaku bersama mamah... Mungkin karena aku berada di perantauan... Dan aku... kangen... Kengen Mamah... Kangen Rumah...
Hauaaaaaaauuuaaaa hiks hiks nangis darah

SABAR.

SABAR.

SABAR.

Akhir Juni aku pulang. Masih 25 hari lagi, tapi, aduhhh... Mamah...

Kalau saat ini, aku lagi menghadapi minnggu tenang. Karena minggu depan sudah UAS. Mah, minta doa restunya yaahhh...

semoga manfaat ^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

My Brother and Me

Well, adakah cerita khusus di antara kami berdua?

Tidak ada sebetulnya, hanya saja ku memang menyayangi adik ku ini, adik semata wayang.
Yang kadang ia membuatku iri, membuatku marah, membuatku tertawa, sedih, senang, menyebalkan, dan lain-lain.
Contohnya?

Iri?
wah, aku tahu ini bukanlah sikap yang baik, tapi... mau gimana lagi, tak dapat dipungkiri kalau aku akan benar-benar sangat iri ketika dia lebih disayang Mamah, atau lebih dimanja oleh Papah. Yah, kalau soal materi, mungkin aku tidak perlu iri karena kalau mau dikalkulasi, aku lah yang paling banyak mengeluarkan uang. Secara, kita kan beda 7 tahun dengannya...

Marah?
Hmmm.. Kapan ya? Rasanya kalau aku sedang berada di rumah, aku seperti mengekang dia untuk tidak begini dan begitu. Well, itu semua kulakukan untuk kebaikannya kok. Dan lagipula, aku tidak begitu suka kalau dia bermain ke renyal PS, bukan masalah duit, tapi juga KESEHATANnya... Bayangkan matanya apabila terlalu asyik dengan game, bisa-bisa dia terkena miopi (belajar dari pengalaman). Dan yang paling membuatku marah adalah, di sana merupakan kumpulan PEROKOK. Aku tidak mau dia terbiasa dengan asap rokok.

Tertawa?
Oh jelas, kadang secara tidak sadar, dia bisa membuatku senyum-senyum sendiri. Tadi malam contohnya, dia membuatku tertawa. Gini ceritanya, lewat sms..
Adik: Mba, ini nomor baru ku. Angga
Aku: Baru beli hape ya dek?
Adik: Iya
Aku: Merk apa dek?
Adik: hape BB.
Aku: HAh? Bohong..
Adik: Bener. BB belampu besenter.
Aku: hahahaha
Ada-ada aja dia..


Senang?
Kalau aku lagi bete, dan dia datang ngajak main kemah-kemahan, perang-perangan, atau segala jenis permainan yang cowok banget. Sebenarnya yang bikin seneng adalah, aku bisa tidur puas selama permainan itu berlangsung. hehehe

Nyebelin?
Sepertinya dia mulai menyebalkan pas mulai dewasa, udah bukan anak kecil lagi, kalau udah gitu, yawes jadi sering berantem..
Contohnya mungkin rebutan main PS 1, rebutan nonton TV (sebel banget kalau BOLA), dan pinjem hape lama-lama.

Tapi di luar dari semua hal di atas,

Adikku adalah yang terbaik, doaku padamu untuk saat ini adalah...

"Semoga adik selalu berbakti dengan orang tua, dan jangan sampai baligh sebelum menjadi anak yang sholeh."

Aamin

semoga manfaat ^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Puisi Untuk Ibunda

Dari Anna, putri pertamamu...

Tetesan Hujan menerpa wajahku
suaranya mengalahkan detak jantungku
Beradu dengan detak arloji
Membuatku teringat akan suatu waktu

Oh Ibunda tersayang...
Ingatkah engkau akan waktu itu
Di saat engkau melahirkanku
Dengan penuh perjuangan yang tulus

Itu adalah waktu yang lalu
Sekitar sembilan belas tahun silam
Dimana saat itu aku adalah kertas putih
Masih polos tanpa ada noda coretan

Kembali ke masa sekarang, Bunda...
Kertas itu kini menjadi penuh warna
dan semua hal tanda kasih sayangmu
Terima kasih atas segalanya...



Dari Yusuf Angga, adikku...

Tetesan Hujan menerpa wajahku
suaranya mengalahkan detak jantungku
Beradu dengan detak arloji
Membuatku teringat akan suatu waktu

Oh Ibunda tersayang...
Ingatkah engkau akan waktu itu
Di saat engkau melahirkanku
Dengan penuh perjuangan yang tulus

Itu adalah waktu yang lalu
Sekitar dua belas tahun silam
Dimana saat itu aku adalah kertas putih
Masih polos tanpa ada noda coretan

Kembali ke masa sekarang, Bunda...
Kertas itu mulai terbentuk warna
dan semua hal tanda kasih sayangmu
Terima kasih atas segalanya..



Aku dan adikku


semoga manfaat ^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Setelah Postingan Wawancara

Well.. ini adalah tugas adikku yang duduk di kelas 1 SMP.

Adik: "Mba, aku dapat tugas mencari di internet contoh wawancara dengan dokter."

Saya: "Ohh.. udah dicari? Online pake flash unlimited sehari aja.."

Adik: "Udah mba, tapi belum nemu yang tentang narkoba.."

Saya: "Narkoba? Oh yaaa.. Hmmm.. nanti mba Ana cari, deh!"

2 hari kemudian...

Aku dengan membawa soulblue online di kampus mengguanakan jasa hotspot..

Dengan ide brilian dari Helium dan pengarahan dari Litium, dua sahabat anehku ini, akhirnya terciptalah postingan ini:

Wawancara mengenai Bahaya Narkoba

Wahhh.. kayaknya kaku ya bahasanya? Maklum buru-buru jadi ya bisa dibilanggg.. BERANTAKAN.

Seminggu kemudian...

Saya: "Dek gimana udah di-print tugasnya?"

Adik: "Udah, mba!"

Saya: "Bilang apaaaaaa?"

Adik: "Makasih"

Dan begitulah, saya secara tidak langsung meng-EKSIS-kan blog ini,
Sekian.
semoga manfaat ^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Wawancara mengenai Bahaya Narkoba

Murid : Selamat siang, dok. Apa kabar?

Dokter : Siang, dik. Kabar saya baik-baik saja. Mari, silahkan duduk.

Murid : Terima kasih, dok. Maaf mengganggu waktunya. Nama saya Yusuf Angga Dwitama, siswa kelas 1 di SMP Negeri 2 Sampit.

Dokter : Oh tidak apa-apa, jangan sungkan dik Yusuf. Jadi ada perlu apa adik kemari?

Murid : Begini dok, saya ada tugas dari sekolah untuk mewancarai dokter, ini perihal narkoba dan bahayanya bagi manusia.

Dokter : Oh, bagus sekali itu untuk diketahui. Jadi, dimulai dari mana ini?

Murid : Pertama-tama, menurut dokter apa penyebab generasi muda jaman sekarang mudah terjerumus oleh narkoba dan hal-hal yang diharamkan lainnya?

Dokter : Nah baiklah. Menurut saya, ada 3 penyebab utamanya, dik. Pertama adalah pergaulan yang bebas dari orang tersebut, kurangnya asuhan dari orang tua, dan terakhir adalah faktor lingkungan. Apabila ketiganya kurang baik, maka ada kemungkinan untuk terjerumus narkoba.

Murid : Oh jadi begitu. Lalu, sebesar apakah sebenarnya bahaya dari pengkonsumsi narkoba ini, dok?

Dokter : Pertanyaan yang bagus. Sebetulnya bahaya ini tidak hanya untuk pengguna narkobanya, tapi juga kepada pengedarnya. Karena yang harus diketahui, tanpa adanya pengedar pasti tidak akan ada yang menjadi konsumennya. Betul tidak, dik?

Murid : Iya betul sekali, dok. Jadi, kira-kira apa dampaknya pengguna narkoba ini untuk kesehatannya sendiri?

Dokter : Sudah pasti berdampak tidak baik. Pertama, tubuh kita akan mengalami respon yang buruk akibat kinerja otak yang terganggu. Kedua, akan mengalami kecanduan, hingga apabila dihentikan maka pengguna narkoba akan mengalami sakit yang luar biasa. Ketiga, ada perubahan fisik pada kondisi tubuh sehingga semakin lama semakin lemah. Dan terakhir adalah akan menghambat proses kerja jantung yang tertekan oleh kehadiran narkoba ini hingga berakhir kematian sewaktu-waktu. Walau mencicipi saja atau menjadi pecandu ini keduanya sama-sama berdampak buruk. Jadi jangan berani coba-coba, ya!

Murid : Wah, mengerikan sekali ya, dok.

Dokter : Sangat mengerikan memang. Untuk itu adik harus menjaga diri supaya tidak terjerumus ke hal yang buruk contohnya narkoba, minuman keras, dan begitu juga dengan rokok.

Murid : Untuk penutup, bisakah dokter memberi saran khusus supaya terhindar dari bahaya narkoba?

Dokter : Ya awalnya memang dari diri sendiri, yakni belajar untuk menghindari diri dari hal-hal negatif. Selanjutnya adalah untuk jangan salah bergaul dengan orang-orang yang tidak benar, kemudian jauhi lingkungan yang kurang baik. Setelah itu jangan lupa juga untuk selalu menuruti perintah dari orang tua. Kira-kira seperti itu intinya. Bisa dimengerti, dik?

Murid : Iya, dok. Terimakasih banyak atas informasinya.

Dokter : Sama-sama, dik. Semoga yang sudah saya sampaikan ini bermanfaat ya.

semoga manfaat ^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Musibah adalah Anugrah

Memori di masa silam..

"Terdedikasi untuk seluruh manusia di muka bumi, untuk selalu mengingat bahwasanya kematian adalah sesuatu yang nyata, apabila terjadi, maka itulah adanya.”


Sampit, 7 April 2008
Menunjukkan pukul 06.10 WIB. Aku masih ingat, sangat ingat jelas. Hari itu adalah hari senin. Dan aku juga masih ingat, senin adalah upacara bendera rutin dan selanjutnya adalah mata pelajaran olahraga, kelas kami F-1 (FORmasi ilMU aLAm- 1) berkumpul bersama dengan kelas US-Prow (United Science PROgram tWo). Kami sama-sama kelas 2 SMA. Biasanya aku berangkat sekolah dengan seorang sahabat gila gokil karibku si @ekhadul (account twitternya) yang notabene US-PROW, dan kalau kebagian jadwal aku yang bawa motor, pasti aja ngepress berangkatnya.

Dan apabila hampir sampai sekolah aku akan harap-harap cemas menunggu takdir, telat atau selamat. Dan akhirnya, fakta menyatakan kami telat (ya, aku penyebabnya, hiks). Ada gurat kecewa di wajah temanku ini, dia telat karena aku, dan sepertinya ini untuk pertama kali buat dia. Kalau aku, jujur sudah sangatlah sering. Ini bisa kusebut dengan teguran pertama.

07.50 WIB
Alhasil, melalui proses hukuman yang lama karena keterlambatan di atas, kami bersama-sama ganti kostum untuk olahraga. Oh ya, kebahagian muncul karena dosen, eh guru maksudnya, memberikan kebebasan untuk melakukan olah-raga apapun, yang penting bergerak. Yuhuuuu.. Its time to express our life… Akhirnya, dengan lapangan yang indah apa adanya, kami pun berbagi games. Untuk kaum laki-laki yang jumlahnya lebih sedikit ini bermain futsal dan basket. Sedangkan kami para wanita yang jumlahnya membludak ini bermain KASTI. Sudah pasti, F-1 Vs US-PROW.
Ini adalah saat-saat yang paling membahagian karena pada waktu itu, aku mampu menggerakkan semua anggota gerak badan dengan respon yang baik. Subhnaalloh, Maha suci Allloh denga segala KehendakNya untuk si tercipta. Aku bisa melempar tongkatnya bola KASTI sekuat mungkin dengan kedua tanganku juga penerima yang handal bahkan hanya satu tangan, ironisnya saat bola sudah di tanganku, aku bingung sendiri hendak diapakan baiknya. Sayup-sayup, kami bertepuk tangan gembira saat skor labih unggul ketimbang lawan (tangis membucah saat menulis ini sambil mengingat masa lampau).

Teeetttttttttttt… Bunyi bel panjang pergantian mata pelajaran.
Tapi kami yang sedang asyik bermain kasti ini acuh tak acuh sambil melanjutkan permainan, apalagi kami F-1 yang ini keukeuh tak ingin mengakhiri permainan, apalagi saat itu US-PROW lebih unggul. Kalau permainan ini selesai, tamatlah kami sebagai tim yang kalah.

Teeetttt………. Bunyi bel penanda waktu istirahat. Kami mulai saling lirik memberi kode, apakah dilanjutkan atau tidak. Jelas kalau dilanjutkan, kami akan jadi tontonan besar warga sekolah, dari adik tingkat sampai kakak tingkat. Tapi, kami malah tetap acuh tak acuh. Lanjutttkaaann!!!
Selang beberapa menit, wali kelas US-PROW yang kebetulan melihat, langsung member kode kami untuk bubar. Ada senyum lebar dari mereka, ada cemburu membakar di hati kami F-one. Ini olahraga spektakuler. Tapi kenyataan pahit menyapa, kami kalah. Skor tertinggal jauh. Dan yang ironis adalah, aku tidak tahu kalau ini akan menjadi olahraga yang terakhir yang spektakuler bagiku.

03.15 WIB
“Jadi pelatihan hari ini?” Mamah menghampiri aku yang sedang asyik bermain catur dengan adikku ini.
“Jadi, Mah. Nanti.” Aku masih menatap papan catur.
“Jam berapa? Kok belum siap-siap? Mau diantar?” Tanya beliau lagi.
“Gak usah Mah, Anna berangkat sendiri aja. Bada ashar, jam 4.” Penolakan yang sangat kusesali. Aku melirik beliau.
“Yaudah sana mandi, nanti telat!” perintah beliau.
“Iyaaa, Mah..” buru-buru ke kamar mandi. Papan catur tergeletak pasrah. “De.. rapikan caturnya yaaaa, nanti main lagi..” aku teriak sambil berlari ngacir.

03.50 WIB
“Ann.. ini udah hampir jam 4 tapi kok belum berangkat..” teriak beliau mengingatkan.
“Iya Mah, ini lagi masang jilbab..” kulakukan sambil melipat mukena juga.
“Kebiasaan deh, kalau berangkat waktunya ngepress. Lain kali ya berangkat jam 3, sholat ashar di mushola sekolah kan bisa.” Beliau memberikan saran yang diulang ulang sejak dulu, yang kusesali juga kenapa tak pernah sekalipun kuterapkan.
“Iyaa mah, tapi lebih enak sholat di rumah. Biar plong.” Aku pamit sambil cupika-cupiki Mamah.
“Ada yang ketinggalan? Sarung tanganmu gak pakai?”
“Oh iya.. Aduh Anna udah makai sepatu, tolong ambilkan, Mah..”
“Kamu ini, kebiasaan gak disiapkan dulu! Dimana?”
“Aduh lupa, ditaruh dimana ya.. Hmm.. Ga jadi Mah, gak panas juga harinya…”
“Ya sudah, hati-hati di jalan. Jangan ngebut!” Aku senyum sambil mengangguk.

04.00 WIB
Selalu. Selau begitu. Aku bukannya suka dengan telat. Tapi aku hanya ingin tepat waktu. Tidak ingin terlalu datang paling awal, tapi juga tak oingin datang terlambat seperti ini. Mau tidak mau.. aku ngebut juga. Maaf Mah, untuk sekian kalinya aku melanggar perintahmu. Maaf Mah, mungkin Anna bukan anak Mamah yang baik, tapi Anna juga tak ingin menjadi anak yang tidak baik…

Dan demi masa, yang tak dapat kukendalikan apabila tiba waktunya.. (tangis kembali membuncah saat menulis ini)

Aku yang hanya dengan satu tujuan ini, menambah kecepatan motor yang kukendarai. Tatapan fokus ke depan. Kosong. Aku mulai menambah kecepatan lagi hingga kulihat di depan ada sebuah motor yang berjalan lambat. Akhirnya kuperlambat kecepatan, namun fokus untuk mendahului motor di depan yang entah mengapa bartambah lambat jalannya. Its about time. Si motor yang berjalan lambat itu tiba-tiba membelokkan motornya tepat saat motorku hampir menyelipnya. Tak dapat ditunda, kami pun bertabrakan.

Salah siapa? Siapa salah?

Motorku dan juga diriku terlontar jauh menuju pinggir jalan raya. Tak ada yang kurasakan. Badan tak sanggup kugerakkan, tak ada respon. Semakin kupejamkan mata, semakin perih rasanya hati yang bingung, dalam keadaan tak sadar aku menanyai diriku sendiri, apa yang terjadi denganku. Aku tergeletak pasrah tanpa ada yang menolongku. Apa aku sendiri? Tak adakah orang yang lewat? Kuberanikan untuk berucap meminta tolong, tapi tak ada satupun kata yang dapat kulisankan, lidahku kelu. Mata. Ya, mungkin mata dapat kubuka untuk melihat sekitar.

Perlahan kubuka dan ternyata membukanya merupakan sakit yang perih. Bukan mata yang perih. Namun hatiku. Melihat betapa ironis keadaanku. Mungkin ini bisa terobati nanti. Tapi, yang sangat meremukkan hatiku adalah kenyataan yang langsung kusaksikan sendiri, bergerombol orang membantu penumpang si motor yang berjalan lambat tadi, terdiri dari 2 orang perempuan dan satu anak kecil. Aku mencoba mencerna keadaan sekitar, berpikir mengapa tak ada satupun orang yang bergerombol sudi menolongku, paling tidak memindahkan motor yang sedari tadi menindihku ini.

Mengapa??
Apa karena mereka lebih mengenal 2 orang tadi beserta anak kecilnya? Atau karena melihat keadaanku yang ironis sehingga rasanya percuma mendapatkan pertolongan? Atau karena aku yang salah karena menyelip motor yang berjalan lambat itu tanpa membunyikan klakson?
Kembali tangis di hati membuncah. Kebingungan terus menambah. Aku ingin bangkit tapi tak tau harus seperti apa.


10 April 2008
Aku masih terbaring di kasur kamarku. Dengan tangan kiri dipasang gips yang masyaalloh beratnya tak terkira, aku mengalami fisura pada pergelangan tangan. Ini adalah saat-saat aku rawat jalan. Tanpa selang infus yang berhasil kutolak, aku hanya ditemani obat-obatan yang paling tak kusuka. Jujur, sangat terasa sedih bukan karena fisikku yang lemah, tapi karena tak ada satupun teman di sekolah yang menjengukku, mendatangiku memberi semangat, mereka hanya mengirim sms yang kubaca berulang kali.
Entah mengapa, aku hanya ingin berpikir positif supaya tidak menyakitkan, mungkin mereka sibuk dan jarak rumah dengan sekolah itu lumayan jauh, sekitar 8 kilometer. Ironis.
Yang kuperhatikan, mereka yang datang menjenguk adalah tetangga-tetangga yang hanya berada di sekitar kompleks perumahan, meski yyang paling banyak adalah ibu-ibu yang teman Ibundaku. Ironis. Tak punyakah aku teman? Punya, tapi mereka sangatlah jauh, semoga. Saat rumah sepi dan aku sendiri, aku meluangkan waktu untuk menangis. Maratapi hal yang kusesali. Lambat laun aku mulai mengerti, bahwa Sang Maha Pencipta tak akan memberikan cobaan yang tak dapat kulalui hingga aku mendapatkan ibrohnya. Berikut kusebutkan:

1. Bersyukur dengan pemberianNya, jangan terlena karena itu semua hanya titipan. Sewaktu-waktu bisa saja hilang.
2. Hidup bukan hanya bagaimana kita bisa mandiri, tapi bagaimana caranya agar bisa bersosialisasi dengan orang lain. Temanmu kelak bisa menjadi relasimu.
3. Persiapkan bekalmu selama berada di dunia untuk akhirat kelak.
4. Banyak-banyak ber-istighfar, sekecil apapun kesalahan itu.



10 April 2011
3 tahun sudah berlalu. Aku bahkan beruntung, karana masih diberi kepercayaan untuk menjalani hidup. Bayangkan saja, apabila di lauhul mahfuz tercatat bahwa 070408ini adalah kiamat sughro bagiku, maka hendak di bawa keman aku ini? Dengan bekal yang sangatlah sedikit, dengan iman yang mudah goyah, dengan dosa yang tertumpuk.. Aku menangis sejadi-jadinya. Karena bila Alloh berkehendak, bisa saja Dia mematikan kerja jantungku hingga otakku berhenti pula pada saat itu, dan ahhhh..
Astagfirullohh..
Atau mungkin bisa saja seperti ini. Aku mengalami kelumpuhan total tangan kiriku, hingga perlu diamputasi. Siapkah aku? Bagaimana aku akan menjalani hidup nanti? Ya Alloh, berikan hal yang terbaik bagiMu. Ini adalah teguran yang nyata, Alhamdulillah.. Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Semua bisa terjadi, ini hanya perkara waktu. Demi Masa.


-------------------------------------
Lewat tulisan ini, meski aku tahu bahwa beliau tak akan membacanya.. Tapi sekali lagi, terimakasih telah mengandungku selama 9 bulan dan menyampihku serta merawatku hinga aku saat ini. Sampai kapanpun, tak ada yang mampu menggantikan posisimu, itu akan permanent hingga kita dipertemukan kembali di hari yang besar, Aamin..

Untuk refresh, baca ini:
Calon cita-cita di masa lampau

semoga manfaat ^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

I am back, readers..

Bismillah..
Kalau dilihat dari judul, kentara banget aku orangnya kelewat PEDE. Gimanaa enggak, koq percaya diri gitu mencantumkan 'reader' menjadi 'readers'

glekkk..
Memangnya berapa juta banyaknya yang bakal membaca postinganku? memenag siapa aku sihh?
memamg seberapa pentingkah apa yang kutulis di sini?

Anda geleng-geleng kepala.
Sama, yang lagi ngetik juga geleng-geleng kepala, bingung. GAlau..

Dilarang ketawa..!!!!!

tapi kalau mau ketawa, baca di bawah ini:

Qonita: mba Ana.. Es krim..
Aku: hah? Ga ada yg jual pagi2 gini, ta..
Qonita: adaa. Beli es krim..
Aku: ga ada sayang.. Qt main masak2an aja yuk..
Qonita: ga mau. Ayo keluar beli es krim..
Aku: eh, ga enak es krim itu, ta.. (memfitnah)
Qonita: Beli es krim pokoknya! (nangis2)
Aku: yaudah, ayo..
Qonita: (berhenti nangis)
Aku: cium mba dulu sini..
Qonita: Muah. Muahhh..
Aku: pinter sayang. Jangan nangis lg ya (mengusap air mata)
Qonita: hihi (tertawa kecil)
Aku: ta, mba punya hamud nyanyi d hape, mau liat ga?
Qonita: mau. Mana?
Aku: ini.. Tunggu ya.. (mengeluarkan nokey)
dan akhirnya si kecil Qonita melupakan perihal es krimnya tadi.. Dasal batita.. Haha

Eh? Gak lucu ya?
Masa sih gak lucu? aduh, kalo gak lucu aku nangis nih, hiks hiks
Oke. Selesai.

Baikklah serius..
Maaf atas permulaan yang sepertinya terlihat LEBAY atau GAJE.

Yahhh.. itulah aku.. Its me.. klik sini untuk mengetahui lebih lanjut: About Me

Pagi ini, di kota Sampit yang indah.. Bersama keluarga mengumpul. Terimakasih Ya Allah, setelah ujian yang telah kutempuh mendapat ridho dariMu.. Dan yang akan kulalui ini mendapat kepercayaan dariMu, Allahal Mustaan..

Sebetulnya mau curcol. Tapi pagi ini mau berbincang-bincang dulu dengen mamah.
Ciaoooo..

Keep Blogging all..

semoga manfaat^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Jadilah SaMoNa (Sahabat Mom Anna)